BUKTI IMAN
Matius 9:27-34
Apakah iman membutuhkan bukti? Tentu! Tanpa bukti, iman hanya
menjadi angan-angan. Namun, bagaimana cara membuktikan iman? Lakukanlah apa yang diimani, dan imani
apa yang dilakukan. Di situlah iman menjadi hidup, dan memberikan bukti.
Hasilnya tidak selalu langsung terlihat oleh mata, tetapi dampaknya akan
terasa!
Injil Matius menghadirkan
contoh nyata. Dua orang buta datang kepada Yesus. Mereka hanya mendengar
tentang pengajaran dan karya-karya-Nya. Namun,
mereka percaya bahwa Yesus dapat menyembuhkan mereka. Iman
itulah yang membawa mereka datang kepada-Nya. Mereka meminta supaya
Yesus memulihkan penglihatan mereka. Yesus tidak langsung mencelikkan mata mereka, melainkan
terlebih dahulu bertanya untuk meminta konfirmasi, “Percayakah kamu
bahwa Aku dapat melakukannya?” Mereka menjawab dengan
tegas, “Ya, Tuhan.”
Maka, yang diimani itu pun
terjadi. Mata yang tertutup pun menjadi terbuka. Setelah itu, mereka pergi dan
bersaksi tentang Yesus.
Sahabat, hidup kita harus
menjadi bukti iman. Ketika banyak orang meminta bukti dari apa yang kita imani,
maka saat itulah kita harus mendedikasikan hidup kita kepada Kristus. Kita
telah mengalami bagaimana Kristus memelihara serta mencukupkan segala kebutuhan
kita. Maka, sudah semestinya kita tidak lagi meminta tanda, melainkan
menjadikan hidup kita sendiri sebagai bukti. (Wasiat)
REFLEKSI:
Tak kurang kasih Allah yang kita alami di dalam Kristus. Karena itu, sudah seharusnya hidup kita menjadi bukti dari iman yang hidup.