BAHAYA KEDENGKIAN

Matius 27:11-54


Seorang sahabat membagikan kisah pilu. Ia dijatuhkan oleh temannya sendiri karena rasa dengki. Dalam relasi, hal semacam ini memang sering terjadi, terlebih di dunia kerja yang sarat dengan kompetisi. Di tempat kerja, ada orang- orang tertentu yang tidak senang melihat orang lain lebih dari dirinya. Orang yang narsisistik biasanya demikian.

Yesus diarak dan dihukum karena orang lain iri hati kepada-Nya. Padahal, Yesus tidak bersalah sedikit pun. Pilatus pun sebenarnya tahu bahwa orang banyak, bersama para pemuka agama, mendengki Yesus. Namun, ironisnya, Pilatus tidak berani menegakkan kebenaran. Ia memilih jalan aman. Mungkin Pilatus juga merasa iri kepada Yesus, sebab ia tidak mampu seperti Yesus, yang tetap tenang dan kokoh memegang kebenaran. Kedengkian memang membuat akal sehat tidak berfungsi dengan baik. Kedengkian membuat orang menghalalkan segala cara demi ambisi. Dalam bentuk ekstrem, kedengkian bisa mematikan. Seperti yang dialami Yesus: Ia menjadi korban kedengkian massa, para pemuka agama, dan politisi.

Sahabat, dengki adalah penyakit hati. Kedengkian akan merusak diri sendiri sekaligus orang lain. Berbahagialah atas kesuksesan orang lain. Tak perlu iri hati atau dengki. Tumbuhkan budaya apresiatif, baik kepada diri sendiri maupun orang lain. Yesus telah memberikan diri-Nya sebagai kurban bagi kita, supaya tidak ada lagi korban- korban kedengkian yang baru. (Wasiat)

 

REFLEKSI:
Menyadari bahaya kedengkian menjadi langkah awal untuk kita memutusnya dan menggantikannya dengan budaya apresiasi.

Share this Post