SELAGI MASIH SIANG
Kejadian 29:1-14
Hidup manusia memiliki durasi. Terbatas! Demikian pula ada siang
dan malam. Siang memberikan kesempatan bagi manusia untuk bekerja, sedangkan
malam untuk beristirahat. Sang Pencipta
telah mengaturnya sedemikian rupa. Jadi, selagi hari masih
siang, berusahalah karena penyesalan kemudian tiada berguna.
Yakub, dalam perjalanan
mencari pendamping hidup, berjumpa dengan para gembala dari Haran di sebuah
sumur. Saat itu masih siang, dan para gembala sedang duduk-duduk menunggu
kawanan kambing domba lain
untuk bersama-sama memberi minum ternak mereka.
Yakub mengajak para gembala memberikan minum bagi kambing domba yang ada, lalu
kembali menggembalakan, sebab hari masih siang. Sebenarnya, Yakub sedang mengajak para gembala untuk lebih efektif memanfaatkan waktu yang tersedia.
Namun, seandainya mereka mengikuti perkataan Yakub, lalu siapa yang akan
mempertemukannya dengan Rahel? Tuhan memang mengatur waktu sedemikian rupa.
Kekurangan yang satu dapat dipakai untuk melengkapi yang lain.
Jadi, selagi hari masih siang, kita memang harus bekerja secara efektif. Ada waktu untuk sendiri, ada waktu untuk saling
mengisi. Sebab, kita selalu membutuhkan orang lain. Cara terbaik menikmati
hidup adalah bekerja
dengan cerdas, menuntaskan bagian kita, menikmati prosesnya, serta
saling mengisi dan berbagi dengan orang lain. (Wasiat)
REFLEKSI:
Waktu adalah anugerah yang terbatas. Isilah dengan karya kasih yang pantas diwarisi, yang akan dikenang orang siang dan malam.