AKU MAU, AKU AKAN DATANG
Matius 8:1-13
“Pak Pendeta, saya sudah tekun berdoa. Bahkan, setiap hari Senin dan Kamis saya juga berpuasa. Namun, mengapa doa permohonan saya tidak didengar Tuhan?” keluh seorang ibu. Doa yang disertai puasa sebagai ungkapan iman kepada Tuhan adalah hal yang baik. Namun, kadang kita lupa bahwa Tuhan berdaulat penuh untuk mengabulkan atau tidak mengabulkan permintaan kita. Relasi kita dengan Tuhan didasarkan pada anugerah, bukan pada usaha atau ritual yang kita lakukan.
Teks Alkitab hari ini mencatat dua peristiwa penyembuhan. Pertama, Yesus mentahirkan seorang yang menderita kusta, yaitu penyakit kulit yang membuat seseorang dianggap najis. Kedua, Yesus menyembuhkan hamba seorang perwira di Kapernaum. Orang yang menderita kusta itu memiliki iman yang besar bahwa Yesus sanggup mentahirkannya. Perwira di Kapernaum juga menunjukkan iman yang luar biasa dengan meminta Yesus tidak perlu hadir secara fisik untuk menyembuhkan hambanya. Iman kedua orang ini jelas membangun relasi dengan Yesus, tetapi kedaulatan tetap berada di tangan-Nya. Perhatikan perkataan Yesus, “Aku mau, jadilah engkau tahir,” dan “Aku akan datang untuk menyembuhkan dia.”
Dua peristiwa ini mengajarkan kita untuk beriman dengan kerendahan hati. Jika doa kita dikabulkan, itu semata-mata karena anugerah-Nya. Sebaliknya, jika doa kita belum dikabulkan, percayalah bahwa Tuhan memiliki maksud yang lebih baik bagi kita. Dialah yang berdaulat. (Wasiat)
DOA: Ya Tuhan, kepada-Mu kami berdoa dan berharap, Engkaulah yang empunya kedaulatan penuh untuk melakukan yang terbaik bagi kami. Amin.