BERBENAH BERSAMA ALLAH

Yehezkiel 39:21-29


Pagi itu, Rina terdiam menatap genangan kopi di cangkirnya. Rasanya, setiap tetes cairan hitam itu menyimpan bayangan kegagalan kemarin: proyek kantor yang berantakan, salah paham dengan rekan kerja, bahkan janji pada diri sendiri untuk berolahraga pun tidak tertunaikan. Hela napas berat lolos dari bibirnya. Rina tahu, ada penyesalan yang mengendap di dasar hati. Namun, di balik awan mendung perasaannya, secercah pikiran melintas: “Apakah hari ini juga akan berakhir sama?”

Ketegasan Allah terhadap dosa adalah jelas. Namun, belas kasihan Allah untuk pemulihan pascapertobatan juga tegas. Allah tidak terus-menerus tinggal dalam murka. Dia berkenan pada rekonsiliasi yang mendamaikan. Bagi Allah, kegagalan bukan akhir segalanya. Pertobatan adalah berbenah diri demi masa depan yang lebih baik. Tindakan anugerah ini ditempuh Allah sebagai upaya menjadikan Israel sebagai teladan. Bagi Allah yang terbaik bagi dunia ini adalah perbaikan bukan kehancuran.

Setiap hari, kita diundang untuk membuka diri pada karya Roh Kudus. Hati kita menjadi lembut untuk mengakui kesalahan dan berani berubah. Setiap upaya perubahan hidup terjadi bukan dengan kekuatan kita sendiri, tetapi oleh Allah sendiri melalui Roh-Nya yang menguduskan kita. Bentukan Allah bagi diri kita akan menjadi kesaksian bagi orang lain. Ingatlah, Dia adalah Allah yang tidak menyembunyikan wajah-Nya. (Wasiat)

REFLEKSI:
Bentukan apa yang sedang Allah buat bagi diri kita saat ini?

Share this Post