AMPUNILAH DIA!

Lukas 17:1-4


Dalam kehidupan masyarakat masa kini, dikenal istilah cancel culture, yaitu budaya membatalkan atau menghapus seseorang dari ruang publik, biasanya media sosial, karena kesalahannya. Orang tersebut dihakimi secara massal berdasarkan emosi dan opini publik. Ia diblokir, dikucilkan, bahkan dijadikan bahan gosip tanpa diberi kesempatan melakukan klarifikasi atau pertobatan.

Kala manusia sulit mengampuni, Yesus justru mengajarkan grace culture, yaitu budaya kasih karunia. Dia berkata, “Jagalah dirimu! Jika saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia, dan jikalau ia menyesal, ampunilah dia.” Yesus tidak menginginkan kita memendam luka, tapi menghadapi kesalahan dengan kasih dan keberanian. Menegur bukan karena kita lebih suci, melainkan karena kita peduli agar saudara kita tidak tersesat. Jika mereka menyesal, kita diminta untuk mengampuni, bukan menghakimi. Relasi yang sehat adalah relasi yang bisa saling menegur dan saling mengampuni. Berilah ruang bagi orang lain untuk berubah dan bertobat. Itulah bukti kasih yang hidup di dalam komunitas Kristen.

Relasi yang tulus bukan dibangun dengan kesempurnaan, melainkan dengan kerendahan hati untuk meminta maaf dan kekuatan untuk memaafkan. Marilah menyelesaikan persoalan dengan teguran yang membangun dan pengampunan yang memerdekakan. Pengampunan bukan hanya menyelamatkan orang lain, tetapi juga menyembuhkan diri kita sendiri. (Wasiat)

DOA: Ya Tuhan, mampukanlah kami membangun relasi dalam kasih dan pengampunan. Amin.

Share this Post