PATUH TETAPI SALAH

Kejadian 27:1-17


Pernahkah Saudara menghadapi situasi ketika orang terdekat menyarankan hal yang salah? Mungkin seorang sahabat atau orang yang Saudara kasihi mengajak Saudara berbohong atau menutupi kebenaran demi keuntungan sesaat. Ini adalah dilema ketaatan yang sering kita alami.

Dalam Alkitab, ada kisah Ribka yang memberikan arahan kepada putranya, Yakub, untuk ditaati. Namun, arahannya adalah rancangan penipuan terhadap Ishak, suaminya. Peristiwa ini menunjukkan dinamika relasi keluarga yang menyesatkan. Ketaatan tidak diarahkan kepada kehendak Allah, melainkan kepada rencana manusia yang penuh tipu daya. Yakub patuh, tetapi ketaatannya keliru. Hal seperti ini tidak patut diteladani. Ketaatan sejati seharusnya ditujukan kepada Allah. Suara manusia berpotensi menyesatkan dan membawa kepada dosa. Oleh karena itu, dengan pertolongan Roh Kudus, kita dipanggil untuk hidup dalam kebenaran yang berasal dari Kristus, bukan dalam manipulasi.

Ketaatan yang tidak disaring sangat berbahaya. Allah menghendaki ketaatan yang lahir dari pengenalan akan kehendak-Nya. Jangan sekadar mengikuti arus atau suara yang terdengar meyakinkan, tetapi sesungguhnya menjerumuskan. Ujilah setiap nasihat dengan firman Tuhan. Carilah nasihat dari orang beriman yang dewasa secara rohani. Beranilah berkata tidak terhadap hal yang salah. Dengan memilih kebenaran, kita menghormati Allah lebih daripada siapa pun. (Wasiat)

REFLEKSI:
Apa bentuk kepatuhan kita kepada Kristus yang seharusnya dipilih lebih dari apa pun sekarang ini?

Share this Post