DAMAI DI TENGAH BADAI

Yesaya 26:1–4


Seorang anak kecil berjalan di jembatan gantung yang bergoyang. Ia merasa takut. Namun, ayahnya mengulurkan tangan dan berkata, “Pegang tangan Ayah, jangan takut.” Anak itu menggenggam erat tangan ayahnya. Meskipun jembatan tetap bergoyang, ia berjalan dengan penuh keyakinan melewati jembatan tersebut, bukan karena jembatannya kuat, melainkan karena tangannya berada dalam genggaman tangan sang ayah. Cerita ini menggambarkan kehidupan kita juga. Situasi kehidupan di sekitar kita bisa berguncang begitu hebat. Kita merasakan kecemasan dan kekhawatiran, tetapi Tuhan menolong serta memampukan kita melewati segala guncangan hidup yang kita hadapi.

Yesaya menegaskan pengakuannya bahwa di tengah pergumulan hidup, TUHAN adalah gunung batu yang kokoh. Dalam konteks budaya Timur Tengah kuno, gunung batu merupakan simbol tempat perlindungan yang aman dan kuat dari musuh, badai, dan bahaya. Gunung batu tidak mudah terguncang atau dihancurkan. Demikianlah TUHAN menjadi tempat perlindungan bagi umat-Nya. Percaya kepada TUHAN bukan berarti bebas dari badai, melainkan memiliki perlindungan yang kokoh. Yesaya menegaskan bahwa kekuatan manusia terbatas, tetapi kuasa TUHAN tidak terbatas.

Ketika badai hidup datang, janganlah berfokus pada besarnya gelombang, tetapi berfokuslah kepada Tuhan. Percayalah kepada-Nya dengan sepenuh hati. Tuhan tidak pernah gagal menjaga mereka yang percaya kepada-Nya! (Wasiat)

DOA:
Tuhan, ajar kami untuk selalu percaya bahwa Engkau adalah kekuatan kami dalam menjalani kehidupan setiap hari. Amin.

Share this Post