MENJADI BAGIAN DARI SOLUSI
Yohanes 9:1-41
Kegagalan, sakit penyakit, dan penderitaan kerap dipandang
sebagai upah dosa. Pemahaman semacam ini sama sekali tidak menolong, malah
membebani manusia. Menarik untuk direnungkan, Yesus ternyata menentang
pemahaman itu.
Ketika berhadapan dengan
seorang yang buta sejak lahir, Yesus ditanya oleh para murid-Nya, “Rabi,
siapakah yang berbuat dosa, dia sendiri atau orang tuanya, sehingga
ia dilahirkan buta?” “Bukan dia, bukan pula orang tuanya, tetapi supaya
pekerjaan-pekerjaan Allah dinyatakan,” jawab Yesus. Jawaban ini memperlihatkan
ajakan Yesus untuk tidak menghakimi dan tidak menambahkan beban, seperti yang
dilakukan orang-orang Farisi. Sebaliknya, Yesus sedang mengajak mereka untuk
menghadirkan solusi. Mata yang buta mesti dicelikkan supaya manusia dapat melihat, menjadi
berdaya, dan berkarya menghadirkan kebaikan. Itulah yang dilakukan
Allah. Di dalam Kristus, Allah
menghadirkan pembebasan dan pemberdayaan. Spirit inilah yang semestinya
dihidupi.
Orang percaya dan gereja yang hidup pada masa kini sudah seharusnya menjadi bagian
dari solusi. Pandangan-pandangan teologis yang tidak konstruktif sebagaimana
disebutkan di atas harus ditransformasi. Sikap fanatik seperti orang Farisi
harus ditinggalkan. Berkaryalah seperti Kristus: hadirkan pembebasan dan
pemberdayaan, supaya kasih dan damai sejahtera Allah dapat dirasakan oleh
manusia. (Wasiat)
REFLEKSI:
Masalah membutuhkan solusi, bukan fanatisme yang tidak berarti. Maka, jadilah bagian dari solusi di tengah masalah yang terjadi.