MENJADI TIDAK BERCACAT DAN TIDAK BERNODA
Filipi 2:12-18
“Namanya juga manusia, tidak ada yang sempurna. Pasti ada saja kesalahannya.” Kalimat seperti ini biasanya diucapkan saat kita atau seseorang melakukan kesalahan, lalu orang lain menghibur sambil menunjukkan pengertian mereka.
Di satu sisi, memang benar, tidak ada manusia yang sempurna. Setiap orang bisa melakukan kesalahan. Namun, di sisi lain, kurang tepat jika kita menjadikan kelemahan manusia sebagai alasan dan pembenaran atas sebuah kesalahan. Walaupun kita bisa saja berbuat salah, kita tetap berkewajiban untuk melakukan segala sesuatu dengan sebaik-baiknya. Semangat seperti ini ditegaskan dalam ayat nas hari ini. Target kita adalah menjadi “tidak bercacat dan tidak bernoda”. Hal ini penting karena kita hidup “di tengah-tengah orang-orang jahat dan sesat”. Sebagai murid Kristus—yang karya penyelamatan-Nya sempurna—sudah selayaknya kesempurnaan Kristus menjadi inspirasi kita untuk hidup “tanpa cacat dan tanpa noda”.
Eh, jangan kecil hati dulu dan menganggap diri tidak sanggup untuk hidup “tidak bercacat dan tidak bernoda”. Sebab hidup bukanlah suatu kondisi yang sudah selesai, melainkan sebuah proses yang terus berjalan. Dengan demikian, keadaan “tidak bercacat dan tidak bernoda” merupakan proses yang kita jalani sepanjang hidup. Kita bisa memulainya dari sekarang. Ayo! (Wasiat)
REFLEKSI: Setiap hari berproses menuju “tidak bercacat dan tidak bernoda”.