JANGAN KESAMPINGKAN PERINTAH ALLAH
Markus 7:1-13
Seorang bapak rajin menulis status rohani di media sosial. Tiap pagi ia menulis ayat Alkitab dan kalimat motivasi. Namun ternyata ia bersikap kasar pada keluarganya dan tak pernah meminta maaf. Orang-orang memuji kesalehannya secara online, tapi orang terdekat merasakan kekosongan kasih. Inilah realitas saat ini: banyak orang tampil saleh di luar, tetapi kosong di dalam.
Markus 7:1–13 mencatat teguran Yesus terhadap orang Farisi dan ahli Taurat. Mereka mempersoalkan kebiasaan kecil yang dilanggar murid-murid seperti tidak melakukan tradisi cuci tangan. Namun, mereka sendiri justru melanggar hukum Tuhan demi mempertahankan tradisi buatan manusia. Yesus menegur mereka yang pandai menyusun aturan, tetapi menyingkirkan inti kehendak Allah. Yesus menyatakan bahwa hati mereka jauh dari Tuhan meskipun bibir mereka memuliakan Dia. Kesalehan luar menjadi topeng untuk menutupi ketidaktaatan. Yesus tidak menolak tradisi, tetapi mengkritik ketika tradisi menggantikan kebenaran. Sesungguhnya iman sejati bukan soal tampilan tetapi soal ketaatan yang lahir dari hati yang mengasihi Allah. Perintah Tuhan harus selalu lebih utama dari semua bentuk aturan tambahan.
Tuhan menginginkan kita melakukan perintah Allah lebih dari sekadar rutinitas. Dia rindu hati yang taat dan hidup yang mencerminkan kasih-Nya. Yesus memanggil kita kembali kepada inti iman yaitu kebenaran, kasih, dan ketaatan sejati. (Wasiat)
DOA: Ya Tuhan, ajar kami taat pada firman-Mu, bukan sekadar tradisi. Bersihkan hati kami agar hidup kami berkenan bagi-Mu. Amin.