TINGGAL DALAM KEBENARAN
Mazmur 17:1-7, 15
Risa memandangi berkas laporan yang menumpuk. Perusahaan tempatnya bekerja sedang dilanda masalah karena oknum yang tidak bertanggung jawab. Risa merasa tertekan, bahkan dituduh turut serta dalam skandal itu. Hatinya perih sebab ia selalu bekerja dengan jujur dan berintegritas. Ia ingin melawan, tetapi sadar bahwa hal itu hanya akan memperkeruh suasana. Risa memejamkan mata, teringat janji-janji keadilan Allah, dan pengharapannya kembali tumbuh. Ia memilih tetap tinggal dalam kebenaran dan iman.
Daud berseru kepada Allah yang adil dan setia. Dalam doanya, ia percaya sepenuhnya bahwa Allah memerhatikan hatinya. Bagi Daud, seruan umat yang hidup benar tidak akan diabaikan Allah. Di tengah ancaman ketidakadilan, Daud tidak mengandalkan kekuatannya sendiri, melainkan bersandar pada kasih setia Allah. Pengharapan terbesarnya adalah bertemu Allah dan menikmati kemuliaan-Nya. Daud yakin bahwa penghakiman Allah adalah yang terbaik, sebab mata-Nya melihat apa yang benar.
Jangan ragu melatih integritas hati. Kekuatan dan kebenaran diri sendiri bukanlah dasar yang kokoh. Hanya kasih setia Allah yang teruji sepanjang zaman. Saat menghadapi kesesakan dan ketidakadilan, datanglah dengan jujur dan berani kepada Allah. Dalam pengharapan pada keadilan-Nya, kita akan menerima jawaban. Persahabatan dengan Kristus dan penghiburan Roh Kudus membuat kita tinggal dalam kebenaran. (Wasiat)
REFLEKSI:
Apa yang menjadi pengharapan kita untuk tinggal dalam kebenaran sewaktu menghadapi ketidakadilan?