MEMILIH DENGAN NILAI-NILAI IMAN
Kejadian 24:1-9
Di tengah dunia yang serba instan dan kompromistis, memilih pasangan atau mengambil keputusan sering kali didasarkan pada hal yang mudah atau cocok di mata sendiri. Namun, bagaimana jika Tuhan menuntut kita untuk tetap berpegang pada nilai-nilai iman?
Kejadian 24 mencatat kisah pencarian istri untuk Ishak. Abraham ingin memastikan bahwa masa depan anaknya tetap dalam jalur perjanjian Allah. Abraham memilih untuk tidak mengambil istri dari perempuan Kanaan. Bukan karena rasisme, tetapi karena iman. Ia tahu bahwa bangsa Kanaan menyembah ilah lain. Ia mengutus hambanya untuk kembali ke sanak saudaranya, tempat di mana nilai-nilai iman yang sama masih hidup. Tindakan ini menunjukkan bahwa bagi Abraham, perjanjian dan kesetiaan kepada Allah amat penting. Kesetiaan kepada TUHAN harus melandasi setiap keputusan hidup termasuk dalam hal relasi dan masa depan. Jalan iman kadang lebih jauh, tetapi selalu mengarah pada janji TUHAN.
Saat ini kita hidup di tengah zaman yang cenderung kompromistis. Nilai-nilai iman bisa tergeser oleh kenikmatan sesaat atau desakan sosial. Oleh karenanya, saat memilih pasangan, pekerjaan, atau mengambil keputusan penting lainnya, janganlah hanya menimbang apa yang paling mudah, tetapi apa yang paling sesuai dengan nilai-nilai iman kita. Ingatlah, hidup bukan soal memilih apa yang populer, melainkan apa yang benar di hadapan Tuhan. (Wasiat)
DOA: Ya Tuhan, tuntun kami berani memilih sesuai kehendak dan nilai-Mu. Ajari kami setia meski jalan tidak mudah. Amin.