KECAMAN KEPEDULIAN

Matius 11:20-24


Pernahkah Saudara merasa sangat kecewa ketika nasihat Saudara diabaikan? Misalnya, ketika seorang teman terus melakukan keburukan meskipun sudah diingatkan berkali-kali, atau ketika seorang anak mengulang-ulang kesalahan yang sama, padahal sudah diajari? Rasa kecewa itu wajar. Terkadang, kemarahan atau kecaman muncul sebagai bentuk kepedulian. Hal ini bukan berarti membenci, melainkan sebuah harapan akan perubahan.

Demikian pula yang dirasakan oleh Yesus ketika Ia mengecam kota-kota yang tidak bertobat. Kecaman Yesus merupakan ungkapan kekecewaan, sebab meski berbagai mukjizat telah dinyatakan di kota-kota tersebut, mereka tidak berubah. Kecaman itu menjadi peringatan keras bahwa dosa sangat berbahaya. Bertahan dalam sikap yang salah sama saja dengan memilih jalan menuju kebinasaan. Membiarkan seseorang terus berada dalam kesalahan tanpa berupaya menegurnya adalah tindakan yang tidak benar. Oleh karena itu, kecaman Yesus merupakan wujud kepedulian yang disampaikan dengan tegas. Sikap mengabaikan kebenaran perlu direspons dengan peringatan dan didikan yang tegas pula.

Ada kalanya kita membutuhkan teguran, bahkan kecaman, ketika perilaku kita sudah melampaui batas, agar kita mau berubah. Ketika membaca Alkitab dan menemukan panggilan untuk bertobat, janganlah kita menolaknya. Allah mengasihi kita bukan hanya melalui kelembutan, tetapi juga melalui teguran yang mendidik. Semua itu bertujuan agar hidup kita menjadi lebih baik. (Wasiat)

REFLEKSI:
Perilaku hidup seperti apa yang ada dalam diri kita yang berpotensi mendapat kecaman dari Yesus?

Share this Post