DI BALIK ALASAN

Yeremia 1:4-10


Pernahkah kata-kata seperti, “Aku tidak pandai bicara,” atau, “Aku tidak punya waktu,” atau juga, “Aku masih muda,” menjadi alasan kita ketika diminta terlibat dalam sebuah kepanitiaan, badan pelayanan, atau kemajelisan?

Yeremia pernah mengucapkan alasan serupa ketika TUHAN memintanya menjadi nabi. Bagi orang Israel,  menjadi nabi bukanlah sekadar soal kemauan pribadi, seperti ketika seseorang ingin menjadi tukang kayu, nelayan, atau penjual kain ungu. Menjadi nabi adalah pilihan TUHAN sendiri. Oleh karena itu dapat dimengerti bila Yeremia merasa sungkan dan gentar saat diminta menjalani “profesi” yang TUHAN pilihkan untuknya. Ia takut gagal menyampaikan perintah-Nya. Ia khawatir orang tidak percaya kepadanya. Bagaimana jika begini atau begitu? Syukurlah, TUHAN mengenal Yeremia dengan sangat baik. TUHAN mengerti bahwa Yeremia bukan tidak mau bekerja bagi-Nya, melainkan ia takut tidak mampu mengerjakan tugas dengan sebaik-baiknya. Memahami hal ini, TUHAN berkata kepada Yeremia, “Jangan takut….”

Kita pun kerap bersikap seperti Yeremia. Ketika Tuhan meminta kita melakukan sesuatu, kita takut gagal. Kita berpikir, daripada Tuhan kecewa, lebih baik bukan kita yang mengerjakannya. Namun, Tuhan tidak menghendaki kita menjadi serba bisa dalam melaksanakan kehendak-Nya, melainkan bersedia mengerjakannya bersama-Nya. Jadi, masihkah kita menolak ajakan-Nya? (Wasiat)

REFLEKSI: Tuhan bukan mencari seorang yang serba bisa. Dia mencari seorang yang mau bekerja bersama-Nya.

Share this Post