KONSEKUENSI KETIDAKTAATAN

1 Samuel 15:22-31


Taat! Ini kata yang pendek tapi konsekuensinya panjang. Seorang sahabat menceritakan masa-masa manis sewaktu bekerja. Ia bersikap kritis, tetapi tetap menunjukkan ketaatan pada aturan dan atasan. Kariernya bagus. Ia juga disenangi banyak kawan.

Saul adalah sosok yang manis dan gagah secara fisik. Namun, perjalanannya sebagai raja tidak semanis dan segagah itu. Mengapa? Karena ketidaktaatan! TUHAN memintanya untuk menumpas musuh beserta semua harta benda mereka. Namun, Saul tidak melakukannya. Ia lebih mendengarkan suara rakyatnya, yang justru merampas harta benda musuh dalam perang. Alasannya, ternak yang dirampas akan dipersembahkan kepada TUHAN. Karena itu, Samuel dengan keras menegur Saul. Samuel tanpa tedeng aling-aling menyatakan bahwa TUHAN menolak Saul sebagai raja, sebab ia menolak firman-Nya. Harga sebuah ketidaktaatan Saul sangat mahal: ia kehilangan jabatan, kebahagiaan, dan makna hidup.

Sahabat, belajar taat mungkin sulit, tetapi hasilnya selalu manis. Dari Saul kita belajar bahwa ketidaktaatan akan menyusahkan diri sendiri, dan membuat kita kehilangan kepercayaan. Karena itu, baiklah kita memilih untuk taat. Hidup adalah amanat dari Tuhan, demikian juga jabatan. Jika kita taat kepada aturan, hukum, dan firman-Nya, kita tidak hanya disenangi oleh kawan, tetapi juga dirahmati oleh Tuhan. (Wasiat)

 

REFLEKSI:
Kalau kita tidak taat, kita akan kehilangan legitimasi dan kepercayaan. Jadilah taat untuk merasakan manisnya rahmat Tuhan.

Share this Post