KETIKA KITA TERSAKITI
Mazmur 83:1-4, 13-18
Sambil menangis, seorang anak menceritakan kepada ayahnya tentang perlakuan buruk teman-temannya di sekolah. Ia menyebutkan satu per satu nama teman-teman yang merundungnya. Anak itu berharap ayahnya segera membalas perlakuan menyakitkan tersebut. Namun, apakah seorang ayah yang baik akan memenuhi keinginan itu?
Serupa dengan hal itu, pemazmur menceritakan dengan rinci pahit getir penderitaan yang dialaminya akibat persekongkolan bangsa-bangsa yang memusuhi umat Allah. Ia bahkan menyebutkan siapa saja yang memeranginya. Dalam harapannya, sebagai Pelindung yang perkasa, Allah akan membalas penderitaan itu setimpal. Sikap ini sangat manusiawi. Pemazmur berdoa agar TUHAN “menegur” mereka yang menganiayanya. Makna “menegur” yang dimaksud, yaitu suatu bentuk pembalasan atas rasa sakit hati.
Sebagai orangtua yang baik, apakah ketika mendengar pengaduan anak, kita langsung mengambil tindakan keras untuk membalas? Tentu tidak. Orangtua yang bijaksana tidak bertindak reaktif. Sikap diam orangtua bukan berarti tidak mengasihi, melainkan sedang mempertimbangkan cara terbaik. Demikian pula dengan Allah. Diam-Nya bukan berarti Ia tidak peduli, melainkan Ia sedang merancang sesuatu yang baik. Ia pasti mendengar setiap pengaduan kita. Karena itu, percayalah dan tetaplah berharap kepada-Nya, sebab Ia akan menolong kita. (Wasiat)
DOA: Ya Bapa, ketika kami tersakiti, kiranya Engkau saja perlindungan kami. Ajar kami untuk percaya dan berserah kepada-Mu. Amin.