MENUNGGU TUHAN

Mazmur 27:7-14


Mungkin kita pernah memiliki pengalaman yang tidak menyenangkan dalam hal menunggu. Jika keterlambatan tersebut berdampak minimal, meskipun kesal, kemungkinan besar kita memilih untuk memaafkan pihak yang bersangkutan. Namun, jika kerugian yang ditimbulkan cukup besar, bisa jadi urusan menunggu ini berujung pada batalnya sebuah kerja sama atau bahkan permusuhan. Tentu saja, ukuran kerugian bersifat sangat subjektif. Dalam urusan menunggu ini, kita bisa menjadi korban atau pelakunya.

Menunggu Tuhan juga termasuk dalam hal ini—baik menunggu Tuhan bertindak melakukan sesuatu maupun menunggu Tuhan datang untuk kedua kalinya. Dalam hal menunggu Tuhan, kita sama sekali tidak pernah tahu kapan Dia akan datang. Dari zaman ke zaman, selalu ada saja orang-orang yang mencoba menghitung-hitung dan menebak-nebak kapan Tuhan akan datang. Namun, setiap kali, tebakan tersebut selalu meleset. Apakah Tuhan sungguh akan datang?

Alkitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru sama-sama menegaskan bahwa Tuhan akan datang lagi. Dalam hal ini, kita tidak perlu ragu. Yang penting, selama masa penantian ini, kita menjaga diri dan hidup kita sebaik-baiknya. Jadikanlah masa penantian akan kedatangan-Nya sebagai kesempatan untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan semakin baik. Jangan lengah, jangan ceroboh, melainkan tetaplah waspada! (Wasiat)

REFLEKSI: Jadikanlah masa menunggu Tuhan datang sebagai kesempatan untuk menjadikan diri semakin berkenan bagi-Nya.

Share this Post