MERDEKA DARI JURANG YANG DALAM

Mazmur 130


Titik nadir terdalam kehidupan adalah suatu kondisi yang menggambarkan kehancuran, ketika berbagai persoalan datang bertubi-tubi, menimbulkan rasa sakit yang begitu mendalam. Dalam situasi seperti ini, apa yang dapat kita lakukan? Ya, berseru kepada Tuhan. Ketika kita berseru kepada-Nya dari kedalaman, Dia pasti mendengarkan. Corrie ten Boom menuliskan dalam bukunya, The Hiding Place, tentang pengalaman hidupnya yang mencekam ketika ia dikirim ke kamp konsentrasi Nazi pada masa Perang Dunia II, karena menyembunyikan orang-orang Yahudi di rumahnya. Ia menyatakan imannya melalui kalimat yang indah, “Tidak ada jurang yang begitu dalam, sehingga kasih Tuhan tidak lebih dalam lagi.”

Dalam situasi terendah, pemazmur pun mengajak umat Israel untuk berseru kepada TUHAN. Sejarah juga mencatat bahwa seperti bangsa Israel yang mengalami penindasan, bangsa kita pun pernah berada dalam “jurang” penjajahan. Perjuangan tanpa kenal lelah yang disertai doa yang tidak pernah berhenti, akhirnya berbuah manis: kemerdekaan. Namun, benarkah kita sudah sungguh-sungguh merdeka?

Jika kita jujur dan membuka mata lebar-lebar, masih banyak orang yang hidup dalam “jurang” penderitaan. Oleh karena itu, pengalaman iman—baik secara pribadi maupun sebagai bangsa—seharusnya mendorong kita untuk menjadi alat di tangan Tuhan. Mari, mengulurkan tangan menjadi jawaban atas doa-doa mereka yang sedang berada dalam jurang kehidupan yang dalam. (Wasiat)

DOA: Ya Bapa, berilah kami keyakinan bahwa Engkau mendengarkan suara teriakan kami meminta tolong sekalipun kami berada dalam jurang yang dalam. Amin.

Share this Post