YANG TERBESAR
Matius 18:1-5
Dalam kehidupan sehari-hari, anak kecil sering kali tidak diperhitungkan. Anak kecil sering kali dianggap lemah, tidak penting, dan kurang berperan. Perkataan anak kecil pun sering kali diremehkan.
Namun, saat para murid mempertanyakan siapa yang terbesar di antara mereka, Yesus justru memanggil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah tengah mereka. Yesus meminta murid-murid-Nya menjadi seperti anak kecil yang kerap diremehkan, tetapi dipandang sebagai yang terbesar oleh Tuhan. Bagaimana mungkin jika kita ingin menjadi yang terbesar, kita harus menjadi seperti anak kecil? Anak kecil pada dasarnya polos. Anak kecil tidak memiliki agenda; yang tersisa hanyalah ketulusan. Jika kita ingin menjadi besar atau penting, mulailah dengan ketulusan, bukan dengan politik atau strategi supaya kita menjadi yang utama.
Menjadi yang utama bukanlah hak kita. Kita hanya perlu tulus, dan dalam ketulusan itu, Tuhan yang melayakkan kita. Kita tidak perlu berupaya atau berlomba menjadikan diri kita utama. Keutamaan itu tidak perlu kita cari. Di tengah dunia yang seolah menggiring kita untuk menjadi yang paling utama, yang paling hebat, dan nomor satu, kita diingatkan untuk menjadi orang yang tulus. Mungkin kita tidak dipandang atau diindahkan orang, tetapi jika kita memelihara ketulusan hati, Tuhan akan melayakkan kita. (Wasiat)
REFLEKSI: Yang terbesar justru mereka yang tidak membesarkan atau mengutamakan dirinya.