MUNAFIK ATAU UTUH?

Matius 23:13-28


Dalam sebuah komunitas diperlukan adanya aturan yang menjadi koridor bagi para anggotanya dalam berperilaku. Ada peraturan yang harus dipatuhi bersama agar tercipta ketertiban dan keteraturan bagi kebaikan semua pihak. Namun, selalu ada kemungkinan bahwa aturan-aturan tersebut justru hanya menguntungkan sebagian orang dan merugikan yang lain.

Pada zaman Perjanjian Baru, kehidupan keagamaan dan kemasyarakatan orang Yahudi saling bertumpang tindih. Hampir semua aspek kehidupan masyarakat diatur oleh aturan-aturan agama. Para pemimpin masyarakat Yahudi sekaligus merupakan pemimpin agama. Para ahli Taurat dan orang Farisi membuat berbagai aturan sebagai rincian hukum Taurat. Mereka dikecam oleh Yesus sebagai orang-orang munafik. Kata munafik berasal dari kata yang berarti “pemeran” atau “aktor/aktris”, yaitu orang yang berpura-pura. Melalui berbagai rincian aturan yang mereka buat, mereka seolah-olah menyiapkan jalan bagi umat untuk masuk ke dalam surga. Padahal, mereka justru menghalanginya karena mengabaikan esensi Taurat, yaitu keadilan, belas kasihan, dan kesetiaan.

Bagaimana dengan kehidupan kita? Seberapa sungguh kita menjalaninya dalam kesadaran bahwa kita adalah warga Kerajaan Surga? Apakah religiositas kita hanya berhenti pada ritual-ritual, ataukah berkembang menjadi spiritualitas yang menggerakkan seluruh sendi kehidupan kita? (Wasiat)

Share this Post