BERHENTI BERSUNGUT

Keluaran 16:1-21


Seorang ibu mengalami depresi akibat kesibukan kesehariannya. Setiap hari ia sibuk mengurus dua anak balitanya. Rumahnya terus berantakan. Ia juga sibuk mengurus semua keperluan suaminya. Ia sibuk mengurus rumahnya. Ia kesal, marah, dan lelah. Ia berada di titik depresi; ia merasa tidak kuat lagi. Ia merasa hidupnya hanyalah beban. Sampai suatu ketika, ia pergi ke seorang psikolog. Psikolog itu mengatakan kepadanya, “Sekarang bayangkan rumahmu. Bayangkan rumahmu rapi, tenang, dan damai. Kamu bisa melakukan banyak hal. Kamu bebas melakukan apa saja. Namun, coba bayangkan setiap sudut rumahmu, dan lihatlah: adakah orang di sana?” Dalam bayangannya, ia membayangkan rumah yang rapi, tenang, dan damai, tetapi tidak ada satu orang pun di sana. Ia mencari suaminya, mencari anak-anaknya, tetapi mereka semua tidak ada. Ia menangis dan berkata, “Seharusnya saya bersyukur. Seharusnya saya tidak sibuk mengeluh dan hanya melihat yang kurang.”

Bangsa Israel keluar dari Mesir, tetapi mereka sibuk bersungut-sungut. Mereka sibuk melihat hal-hal yang tidak menyenangkan, tidak bersyukur, dan hanya mengeluh.

Dalam kehidupan, jangan hanya melihat hal-hal yang tidak ideal. Jangan hanya bisa bersungut-sungut dan mengeluh. Jangan-jangan hal yang kita anggap sebagai beban sebenarnya adalah bagian dari anugerah Tuhan untuk kita. Masih banyak hal yang dapat kita syukuri. (Wasiat)

REFLEKSI: Berhenti bersungut, belajarlah bersyukur.

Share this Post